Kembang Api

Taman kota dan lalu lalang pekerja ibukota selepas jam kerja. Dia senang sekali mengamati manusia-manusia yang melintas di depannya. Suara klakson sayup bersahutan di kejauhan. Jakarta sore hari.

Dia hanya terdiam. Matanya nanar, mengawang jauh ke jalanan. Sementara di sebelah, sahabatnya, panjang lebar menjelaskan sesuatu.

“Kadang-kadang kita cuma diminta untuk sabar. Tunggu. Sama kaya kembang api, kita perlu langit malam biar ledakannya terlihat sempurna dan indah. Percuma juga siang-siang nggak akan kelihatan. Tapi keindahan itu nggak mungkin terjadi tanpa seseorang memantik api ke sumbunya.”

Hening. Dia menoleh ke arah sahabatnya.

“Lo, kaya kembang api. Tinggal tunggu sumbu dinyalakan dan meledaklah dengan segala warna-warni. Semua yang ada di sini selalu pas waktunya.”

Ponselnya bergetar. Layar lebar ponsel dengan wallpaper foto yang selalu jadi favoritnya menampilkan notifikasi pesan masuk.

“Fotonya bagus. Dia penyanyi ya kok pegang mic? Seseorang yang beruntung,” sahabatnya mulai menggoda.

“Gue cuma rindu.”

“Dia juga. Sincerely love him. The vibes will bring a sincere love back to you.

 

Untuk Pu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s